Selasa, 21 April 2009

Simpel dan Murah | :. Honda CB100 1976 dan 1974 (Jakarta)


Mumpung lagi bahas aliran jap’s style, Em-Plus tanya langsung orang yang ngalami. ”Di Jepang naliran ini memang booming! Soalnya selain simpel, modifnya juga murah. Tak cuma itu, buat rider yang suka estetika, bentuknya sip,” jelas Mr. Koichi Sakaguchi from Suicide Custom dari kota Anjyo Jepang yang sering mampir ke Jakarta.


Gugum builder Extraordinary Built Off Bandung juga setuju. ”Paling digandrungi karena murah dan tidak mengubah struktur rangka utama,” ungkapnya. Mungkin ini jadi masukan dua owner CB100 ‘76 dan ‘74, Vicky Wijaya Sasongko dan Farid. Saat dijepret berbarengan kedua motor punya kesamaan selera modif.

”Jangan saru sama aliran scrambler lho tapi ini ol skool jap’s style,” buka Vicky pemilik CB 1976. Baginya pemilihan desain punya cerita tersendiri. Sebelum seperti ini, motornya beraliran scrambler yang dekat ke gaya enduro. “Saya ketiban apes! Di Cileduk, Tangerang mencium tanah air alias gedubrak. Badan lecet semua,” kisah cowok botak ini. Atas alasan itulah ia pindah aliran.

Farid beda kisah. Ia menganggap, aliran jap’style mampu mengekplorasi rasa seni yang resik dan apik. Jadi nggak heran, Farid jauh lebih poser dan kental motor kontes ketimbang Vicky. Untuk penggarapan, percaya pada Franky Yassashi dari Garage Bandung. kelir diorder pada Wawan Protehnik yang menganut gaya blink-blink era 50-an dengan flame dinamis dan glitter extravaganza.

Kesamaan keduanya pada nuansa bobber yang diperlihatkan. Bukan pada pilihan ban depan-belakang gendut tentunya, tapi karena beberapa komponen asli CB seperti tangki di motor Vicky dan rangka yang asli tak diganggu.

Teknik standar meminjam komentar builder beken Veroland (Kick Ass Choppers). “Itulah istilah sebenarnya bobber, yakni mempertahankan komponen standar dalam sentuhan modif. Jadi bukan pada roda depan belakang gendut,” jelas Vero mencoba meluruskan definisi bobber.


Biar keduanya memilih aliran sama, roh yang dibawa berbeda. Vicky senang berkesan lebih urakan dengan setang khas choppers jalanan, z-bar. Farid lain lagi, ia yang berpembawaan kalem, doyan motor resik dan lebih konsen di detail.

Sentuhan kecil jadi titik perhatian. Lihat rancangan mahkota raja di tutup tangki, pastinya bikin kagum. Belum lagi drag bar dengan raiser tinggi. Ups, simak tuh tuas rem yang dipilih model rantai. Tentunya dilas agar pakem dan nggak meleot kiri-kanan.

Vicky lebih urakan dan nggak banyak main detail. Lampu depan dan belakang diambil dari variasi mobil. ”Depan milik Willys,’” singkat cowok yang doyan pakai celana pendek ini. Soal kelir, aroma sport retro juga dipertontonkan dengan motif bendera start.

Urusan jok keduanya hampir sama, gaya flat track yang masih bisa dipakai boncengan. Di soal ini Vicy punya keunggulan. Beda dengan jok Farid yang dijahit, jok dipres hingga tak bisa tembus air. Yang aneh desain knalpotnya, agak nabrak dengan genre yang dipilih.

Penulis/Foto : Isf@n/Anton
sumber= motorplus

1 komentar:

ivan mengatakan...
18 Agustus 2009 04.56

saya tertarik sama modif jap's stylenya..kalo di bandung bengkel modif untuk jap's alamatnya dimana ya,tolong infonya

Posting Komentar

Labels

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

About Me

Foto saya
Festival motor mekanik: Nanang Hary Wawan Sarwanto Anang Nur Henry Festival Motor merupakan Bengekel AHASS Resmi, dan beroperasi di perum 2, karawaci, Tangerang. Terpilih sebagai bengkel teramai se-kabupaten Tangerang.

Followers